Thursday 13th December 2018

Warga Menulis
Melihat Bojonegoro dari Bali (Bagian dua-Selesai)

Warga Menulis <br> Melihat Bojonegoro dari Bali (Bagian dua-Selesai)
(Wisata Alam Desa Sambong Rejo)

(Didik Wahyudi )

Oleh : Didik Wahyudi (Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa, Kabupaten Lamongan)

Baca: Melihat Bojonegoro dari Bali Bagian satu 

Bojonegoro Punya Apa ?

Banyak juga sih dan tak perlu meniru plek keteplek dengan Bali karena potensi dan nilainya berbeda. Kekhasan Bojonegoro berbeda dengan Bali, tak perlu bikin KW Bali 1 atau KW berapa.
Pariwisata itu industri yang menumbuhkan kreatifitas masing-masing. Orang selalu ingin berkunjung ke tempat berbeda.

Bojonegoro tak memiliki pantai tapi punya pantai (gisikan) Bengawan Solo. Yang membentang dari Kecamatan Margomulyo hingga Kecamatan Bourno. Pantainya Bengawan Solo lebih panjang dibanding kabupaten lain yang dilintasi Bengawan solo dari hulu hingga hilir.

Bojonegoro tak memiliki gunung tinggi tapi punya bukit-bukit indah di daerah selatan. Bukit-bukit purba yang ribuan tahun lalu pernah aktif mengeluarkan lahar dan berbagai material letusan. Kini jejaknya masih terlihat jelas batu-batu andesit di daerah selatan. Bahkan ada batu andesit utuh yang besarnya mungkin tak bisa ditemukan di daerah lain Warga lokal menyebutnya Gunung Watu. Saking besarnya dan utuh seperti gunung dengan jejak-jejak kaki hewan purba masih terlihat. Serta puluhan potensi alam lainnya yang belum tersentuh maksimal.

Bojonegoro juga punya tari tradsional hingga kreasi baru. Punya wayang tengul, jaranan, ludruk, kuliner khas. Punya puluhan festival, grebeg, pusat agro, pusat kerajinan. Punya seribuan fosil, ratusan pekerja seni, hotel berkelas hingga melati dan masih banyak juga seni tradisi yang punah serta lain sebagainya.

Lalu masalahnya apa ?

Dua masalah penting yang bisa diselesaikan segera. Yakni infrastruktur dan promosi terus-menerus serta tiada hari tanpa promosi. Promosi bisa dilakukan dengan berbagai bentuk. Di antaranya ya festival sebagai sarana juga membentuk brand, menggairahkan penggerak-penggerak dan menambah daftar prestasi-prestasi.

Target Pemda infrastruktur jalan selesai di tahun ketiga. Dengan pilihan cor dan hotmix, meninggalkan paving yang ndak cocok dengan kondisi tanah Bojonegoro. Paving hanya layak untuk jalan lingkungan saja. Tapi infrastruktur tak hanya jalan bisa fasilitas pariwisata dan macem-macemnya. Tentu jika pembiayaan dibebankan APBD akan menghilangkan konsentrasi “pelayanan” infrastruktur lainnya. Solusinya menguatkan inisiatif banyak pihak.

(Jalan Poros Kecamatan Sugihwaras – Temayang, Desa Alasgung, Kecamatan Sugihwaras, Pembangunan tahun 2018, Foto diambil 17-11-2018)

Sebenarnya tidak hanya dua masalah tersebut. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Misalnya mengoneksikan potensi-potensi wisata, SDM, ego sektoral, kreatifitas, kinerja semua pihak dan lain sebagainya. Jika ingin mendata masalah, barangkali lebih banyak dibanding kelebihan. Masalah akan tetap ada. Namun berfikir solutif akan menguranginya bahkan menambah kelebihan, bukan berfikir mengoleksi masalah malahan.

Jika infrastruktur jalan selesai di tahun ketiga, apakah semua akan selesai? Tidak. Lihat tetangga sebelah. Infrastruktur jalan mulussss hotmix semua hingga pelosok desa tapi pariwisatanya juga masih di tahap “potensi”. Tetangga kabupaten sebelah PAD dari pariwisata tahun 2017 lalu sekitar Rp 900-an juta tapi tahun 2018 turun tinggal Rp 600-an juta, belum nyampe sak miliar. Sebaliknya Bojonegoro PAD nya sudah mencapai 1 Milyar lebih, pendapatan ini bisa naik bisa turun.

(Didik Wahyudi Ngopi dengan Bli Komang (sebelah kanan, kaos garis-garis) di Bali, Koleksi foto Pribadi Didik Wahyudi)

Tapi begini, menilai pariwisata tidak hanya dilihat dari PAD saja. Karena beberapa pariwisata tidak seluruhnya dikelola pemkab dan tak seluruhnya dikarcisin. Ada yang dikelola dengan cara kotak amal terutama wisata religi. Ada beberapa wisata dikelola desa serta beberapa pihak. Bisa jadi PAD Bojonegoro lebih banyak di sektor pariwisata dibanding kabupaten tetangga. Namun bisa jadi juga jumlah kunjungan wisatawan lebih banyak dengan kabupaten tetangga.

Ada musim-musim tertentu kunjungan pariwisata naik dan sebaliknya ada musim jumlah kunjungan menurun. Trend naik turun berpengaruh pada pemasukan, konsistensi pengelola merawat tempat wisata, kreatifitas serta bisnis turunan lainnya yang bikin mental bertahan goyang. Disitulah kebuntuan-kebuntuan membutuhkan jalan keluar. Tak mudah memang, tapi inilah kebutuhan riil. Yaitu kebutuhan memecah kebuntuan dengan jalan inovasi.

Tanpa inovasi gerak akan makin melambat. Jika makin melambat tinggal menunggu waktu gulung tikar. Seperti yang terjadi pada beberapa tempat wisata rintisan di Bojonegoro yang mengalami booming luar biasa, lalu tenggelam karena berhenti mencari inovasi. Lha inovasi ini biasanya dimunculkan oleh para pekerja kreatif, sistem yang terus merangsang kreatifitas dan terus merefleksi kondisi.

“Bali boleh bagus pariwisatanya dan ngangenin bagi banyak orang. Tapi Bojonegoro sangat  boleh begitu dengan kekhasan yang lain”