Thursday 13th December 2018

Eh,… Klangenan Sego Buwohan Bojonegoro

Eh,… Klangenan Sego Buwohan Bojonegoro
(Foto Sego Buwuhan Mas Huda di Jalan Mastrip Kota Bojonegoro, Jum'at 30-11-2018)

Piring putih beralas daun pisang menu sego buwohan terhidang di meja warung milik Mas Huda, di Jalan Tentara Mastrip, Kota Bojonegoro, Jumat lalu. Di kultur masyarakat Jawa, sego buwohan lazim untuk menu hidangan di pelbagai hajatan.

Ada aneka macam lauk yang tersaji di sego buwohan di warung Mas Huda. Nasi putih hangat, perkedel lapis telur kentang, momoh tempe bumbu merah plus kacang panjang, dan mie. Ada tempe goreng, sayur lodeh keluwih, daging tusuk. Tak lupa rempeyek teri dan bawang goreng yang ditabur di permukaan nasi putih. Aromanya menjejak-jejak rasa.

Menurut Mas Huda, 58 tahun, sego buwohan buatannya, tanpa vetsin alias penyedap rasa. Resepnya, yaitu masakan ‘wani’ (berani) bumbu dari pelbagai rempah-rempah. Juga ada di dalamnya bumbu pepak (lengkap), dan dedaunan alami penyedap rasa. Sedikit manis dan cenderung asin. “Wani bumbu dapur,” tegasnya pada Damarkita.com, di warungnya.

(Foto Sego buwuhan, Mashuda dan Istri Pemilik Warung Sego Buwuhan di Jalan Mastrip)

Awalnya, sego buwohan bukanlah menu andalan di warungnya. Pelanggannya lebih kenal nasi pecel, nasi kuning atau nasi urap. Sedangkan sego buwuhan, justru baru belakangan ini disajikan. Maklum, menu ini bukanlah wilayah makanan yang kerap dijual. Karena masyarakat mengenal sego buwohan kerap disajikan di acara tradisonal. Seperti sunatan, pengantin, syukuran atau pesta rakyat lainnya.

Tapi bagi Huda, sego buwohan, telah menjadi legenda di masyarakat. Namanya yang tak asing, sehingga para pelanggannya terus mencari. Tak hanya di acara hajatan tetapi juga bisa di warung makan dan restoran.

Dia mencontoh, kawan-kawan semasa sekolahnya kerap datang memesan puluhan bungkus. Untuk reuni, gerak jalan, atau kumpul-kumpul mendadak. Mereka ada yang berpangkat jenderal bintang satu, tokoh agama, pun juga Ibu-ibu Pegawai Pemerintah. Yang unik, nasi buwohan bungkusnya dibuat khusus, yaitu dari daun pisang atau daun jati.”Katanya sego buwohan bungkus daun jati bikin klangenan,” tandas Mas Huda terkekeh.

Ny Ika, istri Huda menyebut, persiapan masak di warungnya, mulai pukul 02.00 hingga siap saji saat Azan Subuh berkumandang. Nasi yang disediakan antara 8 hingga 10 kilogram, bumbu- lauk pauk yang semuanya masak tanpa diinapkan. Khusus tempe goreng, disajikan sepanjang porsi nasi tersedia.”Pokoknya anget,” ujarnya singkat. Dia menyebut harganya standar. Sego buwuhan plus daging tusuk Rp 15 ribu perporsi

(Bunda Widya berkerudung orange bersama Admin Wakulbo di Warung Sincin, Sumber Foto : fb. Bunda Widya)

Pembina Group Wakulbo Yulis Widhiawati mengatakan, sego buwohan mengingatkan kata buwuh atau buwoh adalah Bahasa Jawa yang artinya menyumbang. Tetapi konteksnya di acara hajatan. Pada tradisi Jawa atau di Bojonegoro, masyarakat datang di hajatan membawa bingkisan. Isinya ada beras, gula, mie atau juga uang. Setelahnya pemilik hajat memberi ganti dengan nasi buwuhan atau sego buwohan.

Kini, menu tradisional Jawa ini ditangkap oleh masyarakat sebagai sebuah peluang usaha. Para pengusaha lalu membuka gerai dengan kuliner sego buwohan. Respon masyarakat juga positif atas menu kampung ini. “Menarik karena tradisi yang melingkupi sego buwohan” Kata Bunda Widya, panggilan Yulis Widhiawati pada Damarkita.com, Jumat, kemarin.

Menu sego buwohan asal Bojonegoro juga bertambah moncer. Karena masakan ini meraih juara satu pada Festival Makanan Khas Daerah (FMKD) se-Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) Bojonegoro, di Lamongan, Rabu 28-11-2018.

(Istri Wakil Bupati Bojonegoro, dr. Endah Budi Irawanto, foto bersama Tim, Setelah menerima Trophy Juara dalam Festival Makanan Khas Daerah, Lamongan, Rabu, 28-11-2018)

Kini makanan tradisional ini, mudah didapatkan setiap hari di Bojonegoro. Masyarakat bisa mendapatkan di warung, toko kue atau bisa dengan delivery order. “Pemasaran diuntungkan adanya ojek online,” kata Bunda Widya.

Ada sejumlah warung yang menyajikan sego buwuhan, di antaranya warung sincin (+62 852-5991-1423) di Gang Mawar Ledok. Harganya tidak mahal, hanya Rp 15 ribu per porsinya. Atau delivery order dengan fasilitas ojek online ke Ayyoenya joe (+62 857-3522-2454) yang ada di Ledok. Bisa juga datang ke warung Katiga (+62 812-3005-1466) di Mojokampung Bojonegoro. Bagi pecinta kuliner di wilayah timur Bojonegoro dapat pesan ke Dapur avi (+62 812-5928-1404) di Graha Aisyah, Kalianyar.

Tentu tak harus menunggu hajatan jika ingin menyantap sego buwohan. Warung dan tempat makan, telah tersedia menu tradisional ini. Dengan teman atau pas saudara berkumpul.(adv)