Thursday 13th December 2018

Gas JTB Produksi, APBD Bojonegoro Bisa Tembus Rp 7 Triliun

Gas JTB Produksi, APBD Bojonegoro Bisa Tembus Rp 7 Triliun
(Foto Slide Kondisi Proyek Unitisasi Gas JTB, pada Lokakarya Media di kantor PEPC, Talok, Kalitidu, Bojoengoro, Senin, 26-11-2018)

Bojonegoro-Jika proyek gas Jambaran Tiung Biru (JTB) berproduksi, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bojonegoro bisa tembus Rp 7 triliun. Proyek gas berlokasi di sejumlah desa di Kecamatan Ngasem ini ditarget kelar dan beroperasi pertengahan tahun 2021 mendatang.

Sekarang ini, APBD Bojonegoro tahun 2018 sebesar Rp 3,6 trilun dan tahun 2019 bisa naik Rp 4, triliun lebih, dari Dana Bagi Hasil (DBH) migas dari Blok Cepu. Dan APBD Bojonegoro diprediksi akan terus meningkat dari DBH baik minyak maupun gas.

Menurut Sekretaris Komisi B (Ekonomi) DPRD Bojonegoro Lasuri, hitung-hitungan APBD Bojonegoro sudah disampaikan ke Pemerintah Bojonegoro. Terutama terkait DBH Migas dari Blok Cepu, yang jika diakumulasi tahun 2019 di atas Rp 4,5 triliun pada tahun 2019 mendatang. Sedangkan jika pada tahun 2021 mendatang proyek gas JTB berproduksi, maka APBD Bojonegoro bisa tembus di atas Rp 7 triliun.”Bahkan bisa lebih,” tandasnya pada Selasa 27 November 2018.

Dia menyebutkan, untuk DBH Migas saja, anggaran yang diterima Bojonegoro sebagai kabupaten penghasil minyak, cukup besar. Rujukannya pada Undang-undang Nomor 33 2004 tentang perimbangan pusat dan daerah. Yaitu, mendapat dana sebesar 16 persen. Dengan rincian 6 persen untuk Bojonegoro sebagai penghasil minyak, lalu 4 persen untuk Pemerintah Jawa Timur dan 6 persen dibagi untuk 38 kabupaten/kota se Jawa Timur. “Itu baru DBH dari minyak,” imbuhnya.

Sedangkan jika proyek gas JTB berproduksi, maka bagi gasil gasnya sangat tinggi. Kisarannya Provinsi Jawa Timur, kabupaten/kota dan daerah panghasil akan dapat 35 persen. Jadi, pemasukan untuk Bojonegoro bisa dapatkan dari Blok Cepu, Blok Tuban dan terakhir dari proyek gas JTB. Sehingga APBD Bojonegoro ke depan, bisa di atas Rp 7 triliun lebih.”Artinya, Bojonegoro bisa jadi kabupaten kaya raya,” paparnya.

Sebelumnya Public and Government Affair Manager PEPC, Kunadi mengatakan sampai saat ini proses pembangunan unitisasi JTB baru mencapai 9-10 persen. Tetapi pihak Pertamina EP Cepu (PEPC) yakin kuartal 1 atau Maret tahun 2021 produksi pertama gas akan terlaksana. Dasarnya pelaksanaan pembangunan dalam 12 bulan sudah sesuai dengan jadwal yang rencanakan. “Kita optimis beroperasi” ujarnya, pada acara Lokakarya Media dan Media Gathering di Kantor PEPC, Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Senin 26-11-2018.

Saat ini, lanjutnya, pekerjaan yang sudah selesai adalah Pembangunan Pioneer Office Work Atau kantor sementara. Juga pekerjaan untuk fasilitas pengeboran dan Gas Prosessing Fasilitiy (Fasilitas Pemrosesan Gas). Proyek persiapan ini dikerjakan oleh PT Pembangunan Perumahan dari Jakarta sebagai Sub-kontraktor dari PT Rekayasas Industri, Japan Gasolin Corporation, (JGC) dan JGC Indonesia atau RJJ.

Reporter : Tim
Editor : Sujatmiko