Wednesday 14th November 2018

Pasang Surut Tambangan Prajurit Abu

Pasang Surut Tambangan Prajurit Abu
(Kehadiran Jembatan baru Kota Bojonegoro-Trucuk, berdampak pada penghasilan jasa tambangan penghubung di Sungai Bengawan Solo. Rabu 24-10-2018)

Bojonegoro – Pengguna jasa jembatan bambu yang melintasi di Sungai Bengawan Solo di saat kemarau mulai berkurang. Penyebabnya, warga mulai memanfaatkan jembatan baru di pertigaan Jalan Untung Suropati-Jalan MH Thamrin ke arah Kecamatan Trucuk.

Tambangan di Jalan Prajurit Abu (kerap disebut Tambangan Prajurit Abu Red) berlokasi di Desa Kauman Kota Bojonegoro. Jika ditarik lurus, menghubungkan Jalan Panglima Jenderal Soedirman, Kota Bojonegoro. Kala kemarau tiba, tambangan ini menggunakan bambu sebagai penghubung antara Kecamatan Kota dengan Kecamatan Trucuk.

Tambangan Prjurit Abu, sudah bertahun-tahun jadi penghantar warga Trucuk dan Bojonegoro Kota. Tiap pagi dan sore misalnya, para pekerja, pelajar, pedagang dan juga pegawai pemerintahan, tambangan ini sangat bermanfaat. Mereka memilih menggunakan tambangan bambu jika kemarau mendera atau nail perahu saat musim hujan datang.

(Jembatan Penyeberangan dari bambu di Prajurit Abu, Kauman Bojonegoro, 24-10-2018)

Menurut Syafi’i penjaga jembatan bambu di Tambangan Prajurit Abu, semenjak jembatan dibuka, warga mulai beralih. Padahal, jembatan belum seratus persen jadi. Tetapi memilih melintas di tambangan.

Akibatnya pemasukan jadi berkurang. Yang biasanya sehari harinya mendapatkan Rp 500 hingga Rp 600 ribu, tetapi dalam tiga pekan terakhir ini jadi berkurang. Yaitu sekitar Rp 200 hingga Rp 250 ribu saja. “Kita berharap ada solusi pekerjaan buat para penjaga tambang,” pungkasnya.

Sapti, salah satu pengguna jasa tambangan mengaku tetep melintas di jembatan bambu. Alasannya, pengerjaan jembatan Trucuk-Kecamatan Kota oleh Pemerintah Bojonegoro belum selesai. “Belum diresmikan jadi masih berserakan, ” ujarnya.

Berbeda dengan Wahyuni warga Kecamatan Trucuk, mengaku hampir tiap hari melewati jembatan itu. Padahal dirinya mengetahui bahwa ada larangan untuk melintasi jembatan karena pengerjaannya belum jadi. “Lewat jembatan lebih dekat, tidak ada petugas yang menegur kok,” paparnya dan bergegas melintasi jembatan.

Jembatan penghubung Bojonegoro – Trucuk hingga hingga saat ini masih dalam proses pengerjaan. Namun para pengguna jalan, baik dari Kecamatan Trucuk maupun Kota Bojonegoro tetap lalu lalang melintas. Padahal di pintu masuk, baik dari arah Trucuk maupun Bojonegoro terbentang baliho ukuran besar tertulis “Bagi kendaraan roda 2 dan 4 di larang melintas”.

Jembatan melengkung yang dibangun di era Bupati Suyoto ini, tentu tak akan lama lagi bisa beroperasi. Meski pengerjaannya sempat molor, warga di Kota Bojonegoro dan Trucuk, berharap banyak Bupati Anna Mu’awanah akan segera meresmikannya.

Soal nasib akan berkurangnya penghasilan para pengelola tambangan, tentu Pemerintah Bojonegoro, berharap ada solusinya. Terutama mereka yang berlokasi tambangangan Sungai Bengawan Solo, terutama di Ledok Kulon, Jetak, Klangon dan sekitarnya, tentu ada plus minusnya. Seperti pasang surut penghasilan para penambang di Prajurit Abu.

Reporter : Rozikin

Editor      : Sujatmiko