Thursday 18th October 2018

Sekitar 1000 Warga Lamongan Trauma Atas Bencana di Sulteng

Sekitar 1000 Warga Lamongan Trauma Atas Bencana di Sulteng
(Bupati Lamongan, Fadeli Menghibur Warga Lamongan Korban Gempa Bumi di Sulteng,Jum'at 5-10-2018)

Lamongan-Sekitar 1000 warga Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, trauma atas korban bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Kini sebagian dari warga telah pulang ke Lamongan dan sisanya akan menyusul ke kampung halamannya.

Sesuai data di Pemerintah Lamongan menyebutkan, sebanyak 907 warga Desa Titik turut menjadi korban bencana gempa dan tsunami. Empat orang diketahui meninggal, sekitar 300 warga sudah dipulangkan kembali ke Desa Titik, Kecamatan Sekaran, dan sisanya dalam proses pemulangan. Dari sekitar 1.000 warga Lamongan sudah terdata mengungsi karena bencana tersebut. Mereka berangsur-angsur difasilitasi kepulangannya ke tempat asalnya di Lamongan. Pemerintah Lamongan berinisiatif menjemput warganya di Bandara Juanda Surabaya, untuk dipulangkan ke kampungnya. “Kita memfasilitasi pemulangan,” ujar Bupati Lamongan Fadeli, saat mengunjungi Desa Titik, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Jumat 5 Oktober 2018.

Fadeli mengatakan, semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk terlibat dalam keterlibatan pemulihan trauma warga. Mereka ini adalah, warga Lamongan yang menjadi korban bencana tsunami dan gempa bumi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Selain itu, lanjut Bupati Fadeli, juga memerintahkan membuka Posko bencana tsunami dan gempa bumi. Kini telah ada tiga posko, setelah sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial. Dengan adanya posko tersebut dimungkinkan ada tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan secara rutin untu warga. Sedangkan untuk kebutuhan hidup, seperti sandang dan sembako, akan dicukupi hingga tujuh hari ke depan. Sedangkan kepada perangkat Desa Titik, kepada korban selamat dan tidak memiliki keluarga agar difasilitasi. Begitu juga dengan anak-anak usia sekolah, agar diterima bersekolah tanpa harus mengurus administrasi.

Khusus untuk pemilihan trauma, pihak Pemerintah Lamongan juga meminta pengelola pondok pesantren, juga lembaga pendidikan untuk memfasilitasi. Seperti misalnya membawa tenaga psikolog, para guru, juga para aktivis untuk ikut menangani. Termasuk bagi anak-anak diminta warga memberikan fasilitas berupa kegiatan mendongeng dan pendidikan edukasi lain untuk menghilangkan beban. “Intinya, warga ikut membantu ke korban bencana,” imbuhnya.

Pemerintah Lamongan telah mengirim bantuan ke korban bencana tsunami dan gempa bumi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah sebanyak 39 truk. Isinya berupa pakaian pantas pakai, makanan, obat-obatan yang dikumpulkan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

Sumber : Humas Pemkab Lamongan
Editor : Syafik