Thursday 18th October 2018

Sidak di TPA Banjarsari, Bupati Anna: Contohlah Swedia

Sidak di TPA Banjarsari, Bupati Anna: Contohlah Swedia
(Bupati Anna Mu'awanah didampingi Kepala DLH, Nurul Azizah, Inspeksi Mendadak ke TPA Banjarsari, 3-10-2018)

Bojonegoro-Bupati Bojonegoro Dr. Hj. Anna Muawanah didampingi Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto melakukan sidak ke sejumlah tempat di Bojonegoro 3 Oktober 2018. Tujuan sidak, selain mengevaluasi juga rencana pengembangan fasilitas milik Pemerintah Bojonegoro itu.

Tempat yang dikunjungi, seperti Alon-alon Kota Bojonegoro, Rumah Potong Hewan (RPH) Kota, Taman Rajekwesi Jetak, Gelanggang Olah Raga (GOR) Dabonsia Ngumpak Dalem, Stadion Letjen H. Soedirman, Tempat Penampungan Akhir (TPA) Banjarsari, Trucuk.
Bupati Anna memberikan beberapa masukan kepada beberapa kepala dinas. Di antaranya Alon-alon, yang ternyata belum ada perpustakaan mini. Jika nanti terbangun, maka bahan bangunannya menggunakan kayu agar terlihat menyatu dengan alam. “Perlu perpustakaan mini,” ujarnya di acara kunjungan itu.

Setelah dari Alon-alon, Bupati Bojonegoro melakukan kunjungan ke RPH kota. Bupati menghimbau tempat ini bisa lebih steril dan bersih. Berikut pengelolaan limbah dari hewan yang telah dipotong agar bisa sesuai standar. Selanjutnya Bupati Anna, melanjutkan perjalanan ke Taman Rajekwesi, Jetak. Toilet umum di lokasi taman jadi bahan masukan.

Bupati Anna melanjutkan sidaknya ke GOR Dabonsia yang mengecek, apakah simbol olahraga di Bojonegoro ini punya arti apa. Karena fasilitas ini harus menunjang olahraga di Bojonegoro untuk bisa lebih maju. “Saya berharap, GOR ini layak untuk digunakan ajang-ajang nasional,” paparnya.

Setelah itu rombongan melanjutkan ke Stadion Letjen H. Soedirman untuk melihat kondisi stadion. Bupati Anna menyarankan agar fasilitasnya dijaga dan jika ada yang kurang perlu diperbaiki. Seperti saklar lampu, dan fasilitas lain di areal stadion.

Rombongan mengakhiri sidaknya di TPA Banjarsari. Di lokasi ini Bupati Anna menghimbau agar pengelolaan limbah harus maksimal. Limbah yang bisa diolah harus memberi manfaat ekonomis, sehingga sampah bisa dimanfaatkan warga. Contohnya, Negara Swedia dalam mengelola sampah. Di Negara itu sampai harus mengimpor sampah, karena pengelolaan maju dan efektif.”Contohlah Swedia,” tandasnya.

Sumber : Humas Pemkab Bojonegoro
Editor : Sujatmiko