Thursday 18th October 2018

Gagal Panen, Warga Karangtinggil Terpaksa Jadi Buruh

Gagal Panen, Warga Karangtinggil Terpaksa Jadi Buruh
(Persawahan tidak ditanami, di Desa Karang tinggi, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan)

Lamongan-Sutikno, memaksa pergi merantau ke kota menjadi buruh kasar. Petani asal Desa Karangtinggil, Kecamatan Pucuk Lamongan, menjadi pekerja kasar setelah tiga kali gagal panen.

Petani di Desa Karangtinggi harus menyambung pekerjaan sebagai buruh bangunan atau tukang becak. Tentu ini bagian dari menyambung hidup. Terlebih setelah gagal panen sampai tiga kali. Padahal, untuk modal menanam padi, mereka harus mencari modal pinjaman. Gagal panen membuat hutang petani menumpuk.

Tentu pekerjaan buruh kasar bukanlah hal yang diinginkan para petani di Desa Karangtinggi. Tapi, demi munyambung kehidupan, sawah dan ladang yang bertahun-tahun jadi sumber penghidupan, terpaksa ditinggalkan. Sutikno bersama warga lainnya di Desa Karangtinggi, bekerja keras pergi ke kota. Tujuannya tak lain, karena tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Bekerja menafkahi anak-istrinya yang ditinggal di kampung halaman.

Menurut Sutikno, tetangganya di Desa Karangtinggi, terpaksa menjadi buruh di kota-kota besar. Musababnya, selama tiga kali tanam padi-padi dan jagung tidak bisa menikmati panenan. Serangan hama tikus telah meluluhlantakkan tanaman yang menjadi sumber kehidupan mereka. “Berbagai upaya petani memberantas tikus tidak pernah membuahkan hasil, “ ujarnya pada Damarkita.com, Rabu 19 September 2018.

Sekretaris Desa Karangtinggil M.Ikhsan, membenarkan selama satu tahun ini ekonomi warga benar-benar kolaps akibat gagal panen. Atas kondisi ini juga telah dilaporkan ke Pemerintah Lamongan.”Belum ada tanggapan dari pemerintah,” ujarnya pada Damarkita.com.
Data yang telah dilaporkan Pemerintah Desa Karangtinggi, luas lahan pertanian di desa tersebut 96 hektare. Dari luas lahan tersebut sebanyak 86 hektare mengalami puso atau gagal panen. Karena tidak ada sumber penghidupan lagi di desa, mereka harus bekerja ke Surabaya dan kota besar lainnya. Selain untuk menghidupi keluarga, tentu juga mengangsur hutang pinjaman modal bertani.
Ditambahkankan Ihksan, jumlah penduduk Desa Karangtinggil sebanyak 1667 jiwa dengan 467 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut sebanyak 80 persen hidup prasejahtera. Dengan gagal panen selama satu tahun ini, kehidupan warga semakin terjepit.

Reporter :Totok Martono
Editor: Sujatmiko