Monday 24th September 2018

Jalan Hotmix Lebih Baik Dari Rigid/Cor

Jalan Hotmix Lebih Baik Dari Rigid/Cor
(Jalan Poros Kecamatan Sugihwaras-Temayang, di Desa Alasgung, Kecamatan Sugihwaras, Retak Meski Usia Jalan Kurang Dari 2 Tahun)

Bojonegoro-Permasalahan infrastruktur Jalan di Kabupaten Bojonegoro belum selesai hingga saat ini, beberapa model pembangunan jalan sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, diantaranya dengan Paving, Aspal dan Cor.

Berdasar dokumen Drat Nota Kesepakatan Bersama tentang Kebijakan Umum Anggaran (KUA) disebutkan kondisi jalan di Kabupaten Bojonegoro hingga tahun 2017 dengan panjang jalan 649, 838 KM (Enam Ratus Empat Puluh Sembilan Kilo meter lebih), jalan dengan kondisi baik atau mantap diklaim sudah mencapai 571,004 (Lima Ratus Tujuh Puluh Satu Kilo Meter) atau 87,87%, untuk jalan dengan kondisi sedang 58,974 KM (Lima Puluh Delapan Kilo Meter lebih) atau 9,08% dan dalam keadaan rusak 19,860 KM (Sembilan Belas Kilo Meter lebih) atau 3,06% dari total jalan Kabupaten.

Namun Data yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro ini berbeda dengan temuan hasil pengawasan dari Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ((DPRD)Kabupaten Bojonegoro, Mashadi. Data dari Mashadi jauh lebih rendah, Kondisi Jalan yang baik hanya 45%, untuk yang Sedang masih 40%, sementara yang rusak berat 15%.

Menurut Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ((DPRD)Kabupaten Bojonegoro, Mashadi, yang paling tepat untuk jalan Kabupaten atau Poros Kecamatan adalah dengan menggunakan Aspal Beton (Hotmix) dibandingkan dengan menggunakan Rigid (Cor Jalan) karena lebih efisien dari sisi anggaran, untuk Hotmix hanya dibutuhkan biaya 2,25 Milyar untuk setiap KM dengan lebar jalan 5 Meter, sementara untuk Rigid diperlukan lebih dari 3,5 Milyar untuk volume yang sama,Sehingga volume jalan yang dapat diperbaiki lebih panjang “Jadi jalan hotmix lebih baik dari Rigid (Cor)” Kata Pria yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Bojonegoro ini.

Sebagai gambaran pada KUA PPAS Kabupaten Bojonegoro tahun 2019, anggaran yang disiapkan untuk peningkatan jalan adalah 91 Milyar maka jika digunakan untuk membangun jalan dengan sistem Rigid, panjang jalan yang dapat di kerjakan untuk lebar 5 meter hanya 26 KM, sementara jika dibangun dengan sistem Hotmix maka panjang jalan yang dapat dinikmati oleh masyarakat mencapai 40 KM.

Selain itu menurut Mashadi, jika dengan menggunakan rigid biaya perawatanya lebih mahal, karena jika rusak sebagian saja, harus diperbaiki semua.  Lain halnya kalau menggunakan hotmix, perbaikan hanya pada bagian yang rusak “Perawatanya lebih murah hotmix” Imbuh Politisi asal Kecamatan Kepohbaru ini.

Senada dengan Mashadi, Sekretaris Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) Cabang Bojonegoro, Alpan Afandi, sistem pembangunan jalan dengan hotmix memberikan kenyamanan kepada pengendara dan usia kendaraan bermotor yang melaluinya akan lebih lama dibanding dengan menggunakan rigid, selain itu pengerjaan jalan dengan Hotmix lebih cepat hanya dibutuhkan waktu 2 minggu, sementara rigid membutuhkan waktu hingga 3 bulan untuk panjang jalan 1 KM, sehingga pengerjaan jalan dengan hotmix tidak mengganggu pengguna jalan dalam waktu yang lama dan dapat menikmati jalan lebih cepat “Penyerapan anggaranya juga lebih cepat” Kata Alpan-panggilan akrabnya-

Dari laman ilmubeton.com disebutkan kelemahan dari sistem pembangunan jalan dengan rigid adalah :

  1. Permukaan perkerasan beton semen mempunyai riding comfort (kenyamanan berkendara)yang lebih jelek dari pada perkerasan aspal, yang akan sangat terasa melelahkan untuk perjalanan jauh.
  2. Warna permukaan yang keputih-putihan menyilaukan di siang hari, dan marka jalan (putih/kuning) tidak kelihatan secara kontras.
  3. Perbaikan kerusakan seringkali merupakan perbaikan keseluruhan konstruksi perkerasan sehingga akan sangat mengganggu lalu lintas.
  4. Pelapisan ulang / overlay tidak mudah dilakukan.
  5. Ketidaksempurnaan hasil pekerjaan akibat kurang telitinya pelaksanaan pekerjaan di lapangan tidak mudah diperbaiki.
  6. Perbaikan permukaan yang sudah halus (polished) hanya bisa dilakukan dengan grinding machine atau pelapisan ulang dengan campuran aspal, yang kedua-duanya memerlukan biaya yang cukup mahal.

Reporter : Tim
Editor : Syafik