Tuesday 21st August 2018

Mushola Wasiat, Satu dari Sekian Tempat Ibadah Tua

Mushola Wasiat, Satu dari Sekian Tempat Ibadah Tua
(Musholla Tua Di Desa Betet Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro)

Bojonegoro-Siang itu begitu terasa panasnya terik matahari. Suara lantunan ayat suci Al Qur’an tanpa pengeras suara terdengar lamat-lamat dari sebuah Mushola di Desa Betet Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.

Itu adalah Mushola panggung bersejarah yang didirikan Kyai Syamsudin, seorang tokoh penyebar agama Islam di Bojonegoro barat bagian utara. Mushola yang konon telah berumur ratusan tahun lamanya ini, satu dari sekian tempat bersejarah dan menyimpan banyak cerita.

Kabarnya, Mushola dengan dinding dari jayu jati ini, sudah memasuki empat generasi turun temurun. Atau dalam Bahasa Jawa disebut nguri-nguri atau melestarikan penyebaran agama Islam. Hingga kemudian telah ditetapkan sebagai fasilitas ibadah dan belajar mengaji anak anak warga sekitar. Generasinya, mulai dari pendiri awal, yaitu Kyai Syamsudin, kemudian dilanjutkan oleh Kyai Munawar, berikutnya Kyai Nur Kazin dan Kyai Samuwil.

Menurut Sundari, yaitu istri keturunan ke tiga dari Kyai Samuwil yang sudah wafat beberapa tahun lalu, Mushola ini belum ada namanya. Lalu oleh suaminya diberi nama Mushola Wasiat. Alasannya, karena memang mushola tersebut diwasiatkan kepada suaminya untuk terus digunakan sebagai tempat ibadah dalam menyebarkan agama islam.

Dahulu, lanjutnya, kerap ada yang nawari agar Mushola dibangun. Namun pihak ahli waris menolak. “Sekarang saya dan anak saya yang meneruskan mengajar ngaji,” ujarnya dengan logat Jawa pada damarkita.com Sabtu (2/06/2018).

Masih menurut wanita lanjut usia namun masih energik tersebut, dulu saat terjadi gerakan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) kondisi desa mencekam. Warga menyelamatkan diri dengan meninggalkan rumah. Di beberapa tempat juga terjadi terjadi pembakaran.
Insiden pembakaran juga menyasar ke Musholla. Tetapi anehnya, mushola dan rumah yang ditempati Sundari dan keluarga tidak bisa terbakar meski sudah dikumpulkan dedauan kering ke sekelilingnya. “Dibakar tidak bisa,” jelasnya. Dia menambahkan saat itu usianya masih 1 tahun. “Sumi saya yang menjelaskan, ” imbuhnya.

Sementara itu, sejumlah anak anak tampak menghidupkan Mushola tersebut dengan tadarrus Al Qur’an. Salah satunya Lala, yang membenarkan terkait cerita mushola yang tidak bisa dibakar. Ia juga mendapatkan cerita dari orang tuanya dan masyarakat setempat. “Saya juga sering dapat cerita mushola tidak bisa dibakar,” pungkasnya.

Reporter : Rozikin
Editor : Sujatmiko