Saturday 15th December 2018

Ternyata Pelopor Tanam Salak di Desa Wedi adalah Santri Kyai Kholil Bangkalan.

Ternyata Pelopor Tanam Salak di Desa Wedi adalah Santri Kyai Kholil Bangkalan.
(Makam Kyai Basyir Mujtaba penyebar agama islam dan pelopor tanam salak desa wedi)

Bojonegoro-Kondisi Desa yang marak perjudian, perzinaan, kejahatan dan masih jauh dari Agama atau biasa disebut abangan, membuat Lurah (Kepala Desa) dan Carik (Sekretaris Desa) Desa Wedi waktu itu, Prihatin, lalu berangkatlah Lurah dan Carik ke Bangkalan Madura menemui Kyai Kholil pengasuh Pondok Pesantren tempat Pendiri Nahdhatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari menuntut Ilmu.

Sesampainya di Pondok Pesantren yang juga tempat Pendiri Muhammadiyah KH. Achmad Dahlan berguru itu, Lurah yang bernama Abu Bakar dan Carik Abdul Jabar menyampaikan keprihatinanya atas kondisi desa mereka dan memohon kepada Kyai Kholil untuk memerintahkan salah satu santrinya membantu menyebarkan agama islam di Desa yang masuk dalam wilayah Kapas Kabupaten Bojoengoro tersebut. Selain menyampaikan kondisi sosial, Abu Bakar dan Abdul Jabar menyampaikan kondisi sawah di wilayah mereka.

Kyai Kholil mengabulkan permohonan Lurah dan carik tersebut dengan memerintahkan santrinya yang bernama Basyir Mujtaba yang kebetulan juga berasal dari wilayah Bojonegoro tepatnya dari Desa Pacul, untuk membantu menyebarkan agama islam. Sebelum berangkat ke Desa Wedi, Kyai Kholil memberikan Buah Salak kepada Basyir Mujtaba dan berpesan untuk ditanam di sawah di desa tersebut.

Lurah dan carik Desa Wedi lalu pulang bersama santri Kyai Kholil itu. Sesampainya di Desa mereka, lalu Lurah menyediakan tempat tinggal dan sawah untuk Basyir Mujtaba. Oleh Santri Kyai Kholil, sawah yang diberikan oleh Lurah di tanami buah salak, seperti pesan dari Kyai Kholil.

Basyir Mujtaba atau orang-orang memanggil dengan sebutan Kyai Basyir Mujtaba ini, lalu berjuang menyebarkan agama islam di daerah tersebut dan berhasil merubah daerah yang dulu abangan menjadi desa santri. Dan ternyata pohon salak yang ditanam berbuah dengan baik di desa tersebut.

“Begitulah cerita desa wedi hingga jadi desa santri dan desa penghasil salak” Kisah M. Subhan, Cicit (keturunan ke -4) Kyai Basyir Mujtaba

Kebun salak peninggalan Kyai Basyir Mujtaba hingga saat ini masih ada. Selain itu sisa peninggalan yang masih tersisa adalah tempat mandi dari Kyai Basyir Mujtaba.

Hingga akhir hayatnya Kyai Basyir Mujtaba menetap di Desa Wdi dan di makamkan di Desa Wedi, untuk menghormati, masyarakat membuatkan cungkup (bangunan khusus disekitar makam untuk tokoh di sebuah desa). Sementara makam istri berada di luar cungkup.
Berjarak seratus meter dari cungkup biasanya diadakan tradisi sedekah Bumi, kalau dulu biasanya digelar seni tayub, saat ini sudah ditiadakan.

Reporter : Rozikin
Editor : Syafik