Tuesday 11th December 2018

Renungan Ramadhan
Kesejahteraan Menurut Pandangan Al Ghazali

Renungan Ramadhan <br> Kesejahteraan Menurut Pandangan Al Ghazali
(Ilustrasi oleh Syafik)

(Fina Mawahib)

Kata sejahtera berasal dari bahasa sansekerta “catera” yang mempunyai arti payung. Dalam pengertian kesejahteraan yang lebih luas, catera adalah orang yang dalam hidupnya terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga ia merasakan kehidupan yang aman dan tentram dalam lahirnya maupun batinnya.

Pada masa modern ini, banyak ilmuan muslim yang sedang mengkaji ekonomi Islam. Kajian-kajian ini dilakukan karena pada awal pertumbuhan Islam, ekonomi belum menjadi disiplin ilmu. Namun, landasan dasar dan substansi telah terealisasi dengan baik dalam sejarahnya. Ekonomi Islam ini merupakan warisan-warisan yang wajib dijaga karena merupakan aset yang sangat penting untuk kehidupan generasinya.
Ekonomi merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan, karena pertumbuhan ekonomi merupakan sarana distributif yang dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Dengan semakin luasnya lapangan pekerjaan, maka pengangguran akan bisa diminimalisir secara signifikan.

Ilmuan muslim yakni Al-Ghazali mendefinisikan ilmu ekonomi sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan duniawi dan ukhrawi dengan cara yang diperbolehkan oleh syara’. Ilmu ini memiliki dua dimensi yaitu dimensi ilahiyah dan dimensi insaniyah. Al-Ghazali mengkategorikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang wajib dipelajari secara fardlu kifayah karena ilmu ini menyangkut tentang kesejahteraan kehidupan manusia.

Menurut Al-Ghazali kegiatan ekonomi merupakan kewajiban bagi manusia sebagai makhluk sosial. Jika kegiatan ekonomi tidak terpenuhi, maka kehidupan dunia akan rusak dan binasa. Al-Ghazali merumuskan tiga alasan mengapa kegiatan ekonomi harus dilakukan oleh manusia, yaitu: Pertama, untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Kedua, untuk memenuhi kesejahteraan keluarga. Ketiga, untuk membantu kebutuhan orang lain yang membutuhkan.

Al-Ghazali berpendapat harta merupakan sarana sebagai perantara dalam pemenuhan kebutuhan. Namun, harta bukanlah satu-satunya tujuan yang harus dicapai oleh manusia, melainkan sebagai perantara manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Manusia wajib menggunakan hartanya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki manusia baik bidang material maupun moral.

Pada saat ini, ada pergeseran paradigma di masyarakat dalam memaknai keontentikan harta. Harta dijadikan sebagai satisfiers dan sarana tunggal untuk tetap menjalani kehidupan, sehingga tujuan akhir dalam hidup masyarakat adalah harta. Harta dipandang segalanya, dengan harta mereka menganggap akan mendapatkan semua yang mereka inginkan, sampai sibuknya menumpuk harta untuk kepentingan pribadi, mereka melupakan kelompok masyarakat yang sedang membutuhkan.

Menurut Al-Ghazali kesejahteraan terjadi ketika tercapainya kemaslahatan, dan tercapainya kemaslahatan yaitu ketika tercapainya tujuan syara’ (maqashid al syari’ah). Tujuan syara’ ini tidak hanya soal kebutuhan materi, namun didalamnya juga mencakup kebutuhan rohani. Adapun sumber-sumber kesejahteraan menurut Al-Ghazali ada lima, yaitu: terpeliharanya agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Al-Ghazali menyimpulkan utilitas sosial dalam Islam menjadi tiga, yaitu maqashid dharuriyat, maqashid hajiyat, danmaqashid tahsiniyat. Maqashid Dlaruriyat adalah tujuan syariat yang harus ada dalam kemaslahatan manusia. Maqashid Hajiat adalah tujuan syari’at untuk kebutuhan sekunder, yang mana apabila kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka akan mengakibatkan kesulitan. Contohnya adalah hukum rukhshah. Sedangkan Maqashid Tahsiniyyat adalah tujuan syari’at untuk memenuhi kebutuhan pelengkap. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka tidak menimbulkan ancaman dan kesulitan.

Keterangan maqashid syariah yang sudah dipaparkan oleh Al-Ghazali, menjadi pedoman bagi masyarakat muslim dalam melakukan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi dalam Islam, tidak terfokus pada kepentingan materi dan memperkaya diri. Tujuan dalam kegiatan ekonomi dalam pandangan Islam adalah mencapai kebutuhan dunia akhirat, saling menguntungkan untuk semua pihak yang melakukan kerja sama, dan saling berbagi terhadap sesama.

Tujuan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 terkait kesejahteraan masyarakat sudah cukup berjalan dengan baik, meskipun tingkat kesejahteraanya masih dibawah batas ambang minimal, namun seiring berjalanya waktu terus mengalami perbaikan tingkat kesejahteraan secara signifikan. Konsep kesejahteraan sosial menurut Al-Ghazali tidaklah terfokus pada material saja, namun juga terfokus pada kebutuhan sosial dan maqashid syariah.