Tuesday 21st August 2018

Warga Menulis
Kartini dan Gerakan Politik Perempuan (bag-2)

Warga Menulis <br> Kartini dan Gerakan Politik Perempuan (bag-2)
(Sally Atyasasmi, Anggota DPRD Bojonegoro)

Oleh: Sally Atyasasmi*

Menatap Masa Depan

Reformasi politik tidak lantas mengubah situasi yang memberikan kelonggaran bagi perempuan secara drastis. Realitasnya, sampai saat ini, tidak mudah menemukan perempuan yang terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial politik. Menurunnya jumlah anggota DPR RI perempuan sekarang berjumlah 79 orang periode sebelumnya ada 101 orang. Persentasenya dari keseluruhan anggota DPR menurun dari 18 persen menjadi 14 persen dari 560 anggota DPR keseluruhan. Sejalan dengan penurunan jumlah anggota DPRD perempuan di Kabupaten Bojonegoro sekarang berjumlah 6 orang periode sebelumnya 9 orang. Angka ini masih jauh lebih kecil dibanding rasio warga perempuan dan laki-laki diwakilinya.

Hadirnya sederet wajah perempuan tampil dalam kontestasi pemilu kepala daerah yang akan berlangsung di Kabupaten Bojonegoro 27 Juni 2018 mendatang, seakan memberikan harapan akan ruang partisipasi politik bagi perempuan. Dari empat kontestan pasangan calon kepala daerah tiga diantaranya mengusung perempuan sebagai kandidat Bupati maupun Wakil Bupati. Namun apakah sudah semua kandidat perempuan sudah memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan perempuan dalam wujud visi yang dianggap berpihak pada perempuan, salah satunya adalah program peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

Dalam bidang kesehatan, ada juga yang menyertakan program spesifik untuk mengurangi angka kematian ibu, selain pemberdayaan ekonomi seperti bantuan modal usaha.

Meskipun demikian untuk menggunakan hak politik untuk menduduki posisi strategis perempuan tetap harus disokong kesetaraan akses dalam hal lain. Jika tidak, hanya perempuan dari keluarga yang mempunyai keistimewaan ekonomi, pendidikan, dan keluarga pejabat serta yang memiliki nama besar saja yang bisa maju. Belum lagi jika naiknya pemimpin-pemimpin perempuan tak memengaruhi upaya-upaya pemberdayaan perempuan. Kartini sendiri adalah putri bangsawan dan menikah dengan bangsawan pula. Bedanya, Kartini menunjukkan hal yang tidak dibidik oleh sebagian pemimpin wanita sekarang, yaitu mengabdikan diri untuk pekerjaan dan perjuangan perempuan

Oleh karena itu, komitmen untuk terus melakukan perubahan untuk perempuan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar. Setidaknya ada beberapa hal mendasar yang harus dilakukan, yaitu Pertama, dari aspek kebijakan. Dalam situasi seperti sekarang, affirmative action, khususnya dalam politik (diantaranya kuota 30% perempuan dalam penyusunan calon anggota legislatif maupun sistem zipper yang memberikan ruang perempuan untuk ditempatkan dalam nomor urut prioritas) masih perlu dilakukan.
Kedua, perlu dibangun suatu struktur politik, tata kelola organisasi dan budaya politik yang “ramah” terhadap keterlibatan perempuan, sehingga tidak ada keraguan dan ketidaknyamanan bagi perempuan untuk memasuki dunia tersebut. Dalam konteks ini, termasuk konsistensi sikap untuk tidak berkompromi pada tindakan pelecehan seksual (sexual harassment) dalam beragam bentuknya.
Ketiga, pada aspek kesadaran, perlu dilakukan gerakan penyadaran tentang peran perempuan diluar sektor domestik melalui pendidikan politik secara secara kontinyu. Penyadaran ini ditujukan tidak hanya kepada perempuan namun juga kepada laki-laki sehingga potensi konflik yang dapat muncul karena perbedaan kesadaran dan pengetahuan dapat direduksi atau terjembatani.

Dalam konteks ini, Soekarno menggambarkannya dengan kalimat indah; Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayak seekor burung. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali. Selamat Hari Kartini (Selesai)

 

Bagian 1