Saturday 20th October 2018

Catatan Bunda Anna
Mahalnya Beras di Bumi Agraris

Catatan Bunda Anna<br>Mahalnya Beras di Bumi Agraris
(Grafis/Syafik)

Oleh : Anna Muawanah /Anggota DPR RI

Tempo hari, saya mengantarkan orang tua ke pasar tradisional. Mencari sejumlah kebutuhan pokok rumah tangga. Satu diantaranya adalah beras.

Ternyata beras harganya melampung tinggi. Di Bumi Angling Dharma yang sangat agraris ini, beras biasa sudah menyentuh angka 12 ribu per kilogram, di sekitar kota.
Konon katanya ini biasa terjadi. Khususnya paska musim tanam pada awal penghujan. Oh, jadi masyarakat sudah terbiasa dengan harga yang menjauh dari jangkauan kemampuan masyarakat?

Dan tak kunjung terdengar ada operasi pasar. Baik dari Bulog dan atau dari Dinas terkait dari pemerintah setempat. Bagi kita kelas menengah ke bawah, ini membuat dada sesak. Air mata menetes tak tertanggungkan.

Apa ini hanya soal tata niaga Sembako? Saya kira lebih kompleks dari itu. Ini juga bisa diduga akibat lemahnya kebijakan pemerintah setempat dalam mengatur tata kelola pertanian.
Saya yang awam ini, sepuluh tahun terakhir belum pernah dengar kajian kebijakan tentang tata kelola pertanian. Pengadaan jambu merah sih dengar.
Padahal sektor pertanian adalah gantungan hidup mayoritas masyarakat Bojonegoro. Lahan semakin menyempit? Ialah, pasti. Beban tenaga kerja di pertanian overload. Di tengah minimnya lapangan kerja, pasti masyarakat kita kembali terjun ke sawah.
Setiap orang petani paling luas, hanya menggarap sekitar 1/4 Hektare lahan. Alhasil, pendapatan semakin menipis. Tata niaga pupuk bagaimana? Ah, sama saja.
Keadaannya begini; saat penghujan tiba. Petani kita mulai menghutang pupuk dan obat-obatan. Yarnen. Betul bayar saat panen. Sehingga tak ada pilihan lain selain mengijonkan gabah.

Panen, tetapi petani tak punya gabah. Entah lari ke mana gabah-gabah itu. Maka yang terjadi, stok gabah di masyarakat sedikit. Melambunglah harga beras.
Meski 14 dari 28 kecamatan di Bojonegoro dilewati sungai Bengawan Solo, ternyata itu tak bisa disebut potensi. Sektor pertanian masih menjadi anak tiri. Anak tiri yang tidak disayang. Diabaikan.

Akhirnya, harga beras mahal di bumi agraris kita ini. Alhasil, berdasar berita media online lokal, penduduk miskin hampir menyentuh angka 600 Ribu jiwa. Separuh penduduk kita miskin? Kenapa bisa terjadi pada daerah dengan APBD Rp 3,4 triliun? Kita ini Kabupaten terkaya di Jawa Timur.

Mereka yang miskin itu tentu bukan pegawai, bukan pejabat yang mengabaikan sektor pertanian. Mereka adalah petani dan buruh tani. Pertanian tak diurus, kemiskinan akan terus tumbuh. Oh ya, Berapa harga beras di desamu kawan?.