Tuesday 11th December 2018

Catatan Gun Retno
Gumbregan dan Keselamatan Kendeng

Catatan Gun Retno<br> Gumbregan dan Keselamatan Kendeng
(Acara Gumbrekan untuk Keselamatan Gunung Kendeng)

Gumbregan adalah tradisi yg setiap tahun secara rutin dilakukan  setiap selesai musim tanam dimana ternak sapi kerbau diajak kerja keras petani mengolah lahan untuk ditanami. Saat musim hujan  tiba, petani mesti meningkat, terutama pekerjaan sawah di masa musim tanam.

Disitulah peran ternak yg membantu meringankan dalam pengolahan tanah saat musim tanam tiba. Maka kesehatan fisik ternak, para petani sangatlah penting untuk dipastikan.  Saat selesai tanam para petani melakukan Gumbregan sebagai tradisi ucap syukur atas selesainya pekerjaan sawah,  menanam dan ternak yang selalu sehat.

Para petani memasak ketupat untuk didoakan setelah itu berikan kepada sapi dan dulur-dulur disekitarnya. Bagi para petani hewan dan ternak di desa merupakan media untuk bercocok tanam untuk membantu mengolah tanah yg mau di tanami. Ternak sapi kerbau bagi petani adalah ROJO KOYO, wujud sandang pangan. Fungsi ternak bisa membantu menyelesaikan pengolahan lahan sawah yang punya nilai besar peningkatan ekonomi. Mulai kotoran ternak,  penggemukan dagingnya hingga anakannya.

Harmonisasi alam (ibu bumi) dan seluruh makhluk hidup di dalamnya senantiasa terjaga. Kemajuan teknologi, tidak boleh menghancurkan kearifan lokal yang telah turun temurun diajarkan leluhur. Bagaimanapun, cara-cara yang alami  dalam menjaga ibu bumi akan menjamin kelestariannya.

OBegitulah kehidupan kami sebagai petani. Ibu bumi tidak hanya kita ambil hasilnya, tetapi juga kita rawat. Merawat berarti kesadaran untuk selalu mengucap syukur atas berkah yang sudah kita terima.

Seperti lesung yang selalu jumengglung ketika ditabuh, seperti itu pula semangat kami sebagai petani untuk terus menggemakan perjuangan dalam melestarikan ruang hidup dan ruang produksi pertanian dengan cara-cara yang bermartabat. Pertanian adalah hidup. Pertanian adalah kebudayaan.

Selama ketidakadilan kepada rakyat (petani) terjadi, selama itu pula akan terus menabuh lesung sebagai tanda adanya perlawanan terhadap ketidakadilan. Ketika para pemimpin menggunakan salah satu sarana produksi pertanian (lesung) dalam berkegiatan, rakyat berharap tidak hanya sekadar sebagai seremoni belaka apalagi hanya sebagai “alat”  mengambil simpati rakyat.

Rakyat sungguh berharap para pemimpin sadar bahwa lesung bukanlah  sekadar alu dan lumpang untuk menumbuk padi tanpa paham bahwa seluruh kebijakan yang dikeluarkan haruslah berkesinambungan, menjaga lestarinya kehidupan pertanian. Jangan sampai para pemimpin justru kehilangan hati rakyatnya jika apa yang dilakukan (menabuh lesung) yang  hanya dimaknai sebagai simbol. Tanpa tanah dan air, mustahil kehidupan akan terpelihara.