Tuesday 11th December 2018

Warga Menulis
Rute Aman Sekolah, Apa Itu?

Warga Menulis <br> Rute Aman Sekolah, Apa Itu?
(Grafis Laka Lantas Melibatkan Pelajar/Syafik)

(Foto : Imam Muhlas/Sumber : FB geka)

Oleh : Imam Muhlas /LBH Kinasih

“ Dan janganlah menjadi tua dan bersedih di kemudian hari, karena tidak mampu berbuat “ kawan kinasih

Membangun budaya keselamatan dengan menciptakan upaya bersama Rute Aman untuk Anak sekolah di Bojonegoro Jawa Timur, menjadi sebuah usulan menciptakan kepedulian sosial bagi kita semua. Mengingat tahun demi tahun kejadian pahit di jalanan seperti tidak berkurang.

Bojonegoro sebagai kota layak anak haruslah mampu menanggulangi ke depan nya. Prihatin, dari jumlah kasus kecelakaan, terdapat 13 pelajar meninggal dunia. Atau jika dirata-rata tiap bulan terdapat satu pelajar meninggal karena kecelakaan. Rinciannya Sembilan luka berat, 393 luka ringan.

Kasus kecelakaan tertinggi, empat meninggal di bulan Maret 2017 silam 415 kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar terjadi di Bojonegoro terhitung dari Januari- Oktober 2017. Atau jika dirata-rata ada sebanyak 41 kasus perbulannya yang melibatkan pelajar atau setiap hari terjadi kecelakaan yang melibatkan pelajar.(dikutip dari data damarkita.com)

Senin kemarin seorang Ahmad Anwarudin Haqiqi, siswa kelas XI Jurusan Keagamaan Madrasah Aliyah Negeri I Bojonegoro. Besok akan siapa lagi ? Doa kita mungkin sama yaitu bukan anak dan keluarga kita yang mengalami hal tersebut, tapi se egoiskah itu kita…

Pengalaman menekan jumlah kecelakaan di jalan sebenarnya sudah banyak yang memulai, Inggris Raya dan kemudian Kanada. Indonesia bisa memulainya sebagai bentuk rasa sayang dan kecintaan kepada generasi, mungkin dengan upaya semacam “Rute Aman ke Sekolah “menyediakan jalur sepeda motor dan sepeda onthel, lampu lalu lintas, tempat penyeberangan, dan tanda pengurangan kecepatan bagi umum akan lebih bisa meminimalisir kenyataan pahit yang terjadi.

Secara pribadi saya akan bilang miris jika soal tumbur menjadi uji jantung bagi kita selaku keluarga yang seolah hanya soal waktu semata akan mengalami kejadian tersebut. Bus, mobil, sepeda motor hanyalah pemantik kita untuk berpikir bagaimana baiknya, tanpa menyalahkan dan membenarkan kejadian yang cukup kita sebut dalam hati sebagai tragedi.

Karena selain soal rambu dan adanya petugas tentu makna pendidikan dan membangun budaya berlalu lintas dengan keselematan adalah kunci utama, dan sekali lagi semua bisa terlibat, Polri, DPRD, Dinas Pendidikan, Kementerian Perhubungan, Komite Sekolah, OSIS dan organisasi serta lembaga lainya.

Tentu saja kita semua bertanggung jawab soal kemanusiaan ini. Mari duduk bersama membahas persoalan bangsa dari lini terdekat di kota kita. Tempat dimana generasi yang lebih baik akan lahir dan tumbuh.