Saturday 20th October 2018

Murah Meriah Gas Rawa Nguken

Murah Meriah Gas Rawa Nguken
(Pemanfaatan Gas Alam Untuk Memasak/Foto Oleh Raafid)

BOJONEGORO-Api yang menyembul dari pipa kecil di bawah tungku pembakaran di dapur rumah Sujadi,58 tahun, seperti tak pernah meredup. Untuk memasak, keluarga pedagang ini butuh menyalakan gas rata-rata 15 jam perharinya.

Tetapi, tak perlu khawatir dengan berapa banyak gas yang terpakai di rumah Sujadi di Desa Nguken, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Maklum,  yang dipakai keluarga pedagang ini adalah gas alam yang terhubung langsung dari rawa-rawa di atas perut bumi. Gas alam?

Ya. Ternyata di bawah tungku dari tumpukan bata, terdapat pipa kecil seukuran jempol tangan. Pipa di ruang dapur dihubungkan ke sumur bor air berkedalaman 6 meter. Jadi, jika sumur air dihidupkan, maka ujung pipa di tungku pembakaran akan suara desisan yang diketahui adalah gas.

Jika ingin menghidupkan gas, cukup dinyalakan dengan korek api. Api akan menyala, tepat di ujung pipa yang dihubungkan dengan saluran di sumur bor. Di dalam sumur bor terdapat dua pipa. Pipa yang keluar air disalurkan ke bak mandi. Dan pipa yang keluar gas disalurkan ke tungku perapian.

Jadi, jika sakelar listrik dinyalakan, otomatis keluar air dan gas yang jika disulut korek akan mengeluarkan api. ”Mudah caranya,” ujar Suyadi, 57 tahun, pada DamarKita di rumahnya di Rukun Tetangga Satu dan Rukun Warga Satu (RT/RW) Desa Nguken Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Dia menambahkan, pipa air dan gas dipasang kran yang berfungsi mengatur besar-kecilnya gas ke tungku api.”Jadi, ini gas gratis,” imbuhnya.

(Pemanfaatan Gas Alam untuk Memasak/ Foto : Rafid)

Tak hanya di rumah Suyadi, yang memanfaatkan gas gratis. Ada lebih dari 10 kepala keluarga yang tanahnya menyembur gas alam. Seperti di rumah Ny Pasiah, juga menggunakan gas untuk kebutuhan masak dan berjalan lebih dari 20 tahun lamanya. Juga  di rumah keluarga almarhum Suyoto, keluarga Moh. Ali, keluarga Tasrun dan keluarga Misdi. Ada lagi  rumah Kepala Desa Nguken Kusnadi, yang berlokasi di RT 04/RW 01.

Menurut Sujadi, gas  yang menyembur di rumah-rumah penduduk ini, berawal ketika dirinya menggali sumur air tahun 1992 silam. Saat galian pipa masuk di kedalaman 6 meter, air dari tanah sudah muncrat keluar. Tetapi pada saat bersamaan, terdengar suara desisan seperti gas yang tentu saja membuat Ayah dua anak ini kaget.

Penasaran dengan suara desisan, Sujadi memberanikan diri mengambil korek api. Lalu korek yang sudah menyala ditempelkan di ujung pipa air sumur bornya. Tak disangka, ujung pipa  menyala api bersamaan dengan keluar air. Tentu saja seisi rumah kaget. Kejadian ini jadi tontonan warga sekitar.”Ya, orang pada nonton,” paparnya.

Penonton ternyata tak hanya warga sekitar, beberapa hari setelah kejadian itu, yaitu bulan kedua tahun 1994, rumah pasangan Sujadi-Suwarti didatangi banyak orang. Dari Pemerintah Bojonegoro, Pertamina dan juga mahasiswa dari Yogyakarta. Mereka melihat langsung sumur air yang keluar gas disertai api. Juga, bau tidak enak yang tercium bersamaan suara yang berdesis. Di antara yang hadir juga mengambil sample air, dan mengukur kondisi udara di dalam rumah.

Gas alam di Desa Nguken, tidak hanya satu tempat tetapi juga ada di lokasi lain. Menurut Suwarti,48 tahun, istri dari Sujadi, di sebelah timur rumahnya, terdapat petak sawah yang kerap mengeluarkan desisan suara disertai api yang menyala di antara genangan air. Petak sawah berjarak sekitar 400 meter dari pemukiman penduduk ini, kerap digunakan warga untuk pelbagai kegiatan. Seperti membakar singkong, jagung dan lainnya.

Khawatir akan terjadi sesuatu,  warga menutup beberapa titik yang mengeluarkan desisan dengan adulan semen. Alasannya, gas yang keluar dari beberapa titik kerap muncul bau tak sedap.”Berbau,” ujar Suwarti. Dia menambahkan, di dapur rumahnya, juga kerap muncul bau tidak sedap. Bau  baru akan hilang setelah api di tungku pembakaran dinyalakan.

Kepala Desa Nguken, Arif Saifudin,38 tahun, membenarkan jika ada beberapa rumah warganya, menggunakan gas alam untuk kebutuhan di dapurnya. Gas diambil dari dalam tanah dan disalurkan lewat pipa ke tungku api ”Ya ada beberapa rumah memakai,” ujarnya pada DamarKita, pekan pertama Oktober 2017 lalu. Ditambahkan, di desanya ada lebih dari10 Kepala Keluarga yang menggunakan gas rawa. Terkait bahaya dan tidaknya, warga telah memakai lebih dari 20 tahun lamanya.”Belum pernah ada kejadian” imbuhnya.

Syaifudin berharap, pihak Pertamina dan Perusahaan Gas Negara bisa mau memfasilitasi penggunaan gas alam. Misalnya, merapikan pipa untuk disalurkan ke rumah-rumah warga.

(Pemanfaatan Gas Alam Untuk Memasak/Foto Oleh Raafid)

Sebenarnya soal gas alam Nguken pernah diteiliti oleh Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur, tahun 2010 silam. Hasilnya, ada kandungan gas yang tersimpan di rawa-rawa bercampur air pinggir Sungai Bengawan Solo. Sedangkan berbau busuk yang kerap tercium warga, diduga ada bercampur H2S atau hydrogen sulfidetetapi kadarnya kecil dan tidak berbahaya.”Hasil surveinya seperti itu,” ujar Kepala Bagian Sumber Daya Alam Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Darmawan, Jumat 27 Oktober 2017.

Sedangkan gasnya terbatas dan cepat habis jika dieksploitasi dalam jumlah besar. Di Desa Nguken terdapat  gas yang tersimpan di rawa-rawa dan persawahan. Jika sampai bertahan lebih dari 20 tahun hingga sekarang, karena pemakainya sedikit. Makanya, jika dibuat seperti pipa jaringan gas seperti di beberapa kota di Jawa, maka, pembagiannya harus merata.”Gas bertahan lama karena pemakainya sedikit,” imbuhnya.

Field Manager PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu Heru Irianto mengatakan, baru mendengar informasi soal gas alam di Desa Nguken, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Pihaknya akan mengecek gas alam yang dimanfaatkan untuk warga.”Kita akan cek,” ujarnya awal Oktober lalu.