Tuesday 11th December 2018

Apa Yang Kurang Dari Sastra Indonesia Di Bojonegoro? (Bagian 5-Selesai)

Apa Yang Kurang Dari Sastra Indonesia Di Bojonegoro? (Bagian 5-Selesai)
(Grafis/Syafik)

SENYUM SIMPUL

Ada tiga hal yang perlu digarisbawahi dari perbincangan ala kadarnya ini, yaitu:

Pertama, gaya Bojonegaran perlu ditonjolkan dalam karya, dan ini dapat berlaku beda antara penulis satu dengan lainnya. Gaya Bojonegaran Gampang Prawoto tentu berbeda dengan Jonathan Raharjo karena pendidikan, latar belakang kehidupan, perspektif, visi kesusastraan dan lain sebagainya berbeda di antara keduanya. Tujuannya, untuk menempatkan penulis Bojonegoro di antara lalu lintas penulis di luar Bojonegoro, luar Jawa Timur, dalam bingkai kesusastraan Indonesia. Hal itu karena fenomena sastra kekinian menunjukkan sedang terjadi banjir penulis tetapi kemarau karya khas di jagat sastra Indonesia.

Gaya Bojonegaran perlu ditonjolkan dalam karya, dan ini dapat berlaku beda antara penulis satu dengan lainnya.

Kedua, teks atau kualitas sastra sebuah karya merupakan fardu ain, bukan kifayah, karena pada dasarnya tujuan seorang penulis adalah menghasilkan karya yang indah, berfaedah, dan kamal, baik untuk perkembangan sastra maupun untuk masyarakat sastra dan publik yang lebih heterogen.

Teks atau kualitas sastra sebuah karya merupakan fardu ain, bukan kifayah

Ketiga, keberanian eksplorasi dibutuhkan dalam sastra Indonesia di Bojonegoro, tidak hanya dalam tema, tetapi bahasa dan gaya ungkap, karena beberapa karya terjebak pada pada pesan, perulangan ungkapan, dan bahasa standar. Jika ada penulis yang berasal dari guru, memang harus punya karya yang bernuansa moral dan didaktis, tetapi ia juga harus menulis karya yang punya nilai tawar estetika sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai penulis.

Keberanian eksplorasi dibutuhkan dalam sastra Indonesia di Bojonegoro, tidak hanya dalam tema, tetapi bahasa dan gaya ungkap

Demikianlah, sekadar pengantar dari saya. Saya mohon maaf atas segala khilaf. Semoga ngecemes ala kadarnya ini dapat menjadi pengantar diskusi yang maknyus dan bermanfaat. Jika nanti tidak bermanfaat dan tak berguna, silahkan saja tidak dipakai. Silahkan saja mendengar uraian dari telinga kanan dan dikeluarkan dari telinga kiri. Bila sekadar makalah ini dianggap mengganggu, dapat segera dibumihanguskan. Mohon, jangan dibumihanguskan di tengah pasar atau di atas tumpukan kertas dan buku-buku.(Selesai). (Sy)