Monday 15th October 2018

Apa Yang Kurang Dari Sastra Indonesia Di Bojonegoro? (Bagian 4)

Apa Yang Kurang Dari Sastra Indonesia Di Bojonegoro? (Bagian 4)
(Grafis/Syafik)

EKSPLORASI SETENGAH HATI

Sudah menjadi rahasia umum, pontensi alam, sejarah, kultural dan sosial Bojonegoro sangat kaya-raya dan berbeda dengan wilayah lainnya. Namun, dari tema-tema yang ditulis dalam sastra Indonesia kurang berani mengeksplorasinya. Terdapat tema-tema seksi dalam belantara sejarah dan sosio-kultur Bojonegoro yang masih perawan. Belum dipinang para penulis dan terbiar menggigil kedinginan. Repotnya lagi, kurang berani eksplor tema itu dibarengi dengan kurang berani eksplorasi bahasa, terutama dalam wilayah puisi. Padahal kata kunci dalam penulisan sebenarnya dapat diringkas dalam dua hal, yaitu tema dan bahasa. Tema makcrot yang didukung dengan kemasan bahasa yang maknyus akan membuat tulisan berkilau, bernas, dan menawan.

Tema makcrot yang didukung dengan kemasan bahasa yang maknyus akan membuat tulisan berkilau, bernas, dan menawan.

Tentu saja, ungkapan tersebut bukan nasehat buat penulis kelas pendekar di Bojonegoro, tetapi lebih pada para penulis muda dan pemuda yang hadir dalam acara ini. Bila ada penulis senior yang merasa bahwa ungkapan tersebut layak dilanjutkan dalam karya mereka lebih lanjut, silahkan saja. Pasalnya, jika mereka abai pada tema-tema ciamik yang dibiarkan dalam belik itu, terus terang tangan saya gatal untuk menyambarnya.

Ihwal ketidakberanian eksplorasi, terdapat pada beberapa karya. Sebagai contoh, dapat dilihat dalam beberapa blog yang ditulis anak muda Bojonegoro atau yang mengatasnamakan sastrawan muda Bojonegoro. Ada satu atau dua puisi yang sudah menunjukkan bangun karya yang layak disebut puisi. Namun, masih seabrek puisi yang kedodoran dan baru menginjak pseudo-puisi, alias curhat, khotbah, dan risalah kebajikan. Memang karya-karya di blog pribadi di internet, tidak ada kurasi sehingga karya apapun datang tayang.

Namun, dari sana dapat ditilik seberapa jauh pemahaman mereka tentang penciptaan sebuah karya, yang memang harus ditulis mandiri, sebagai tanggung jawab pribadi, tapi tidak tercerabut dari akar etnokulturalnya. (Bersambung)