Wednesday 14th November 2018

Muhammadiyah, NU dan Polisi Gabung Tangkal Radikalisme

Muhammadiyah, NU dan Polisi Gabung Tangkal Radikalisme
(Penandatanganan MOU Tangkal Radikalisme/Sumber Humas Polres Bojonegoro)

Bojonegoro – Kepolisian Resort Bojonegoro mengajak Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Dinas Pendidikan, Kementerian Keagamaan serta Universitas Bojonegoro, menangkal gerakan radikalisme. Lembaga kemasyarakatan dan Pemerintah itu diikat dalam Memorandum of Understanding (MoU) berikut pedoman kerja di Kantor Kepolisian Resort Bojonegoro, Selasa 19 September 2017.

Menurut Ketua Pimpinan Cabang NU Bojonegoro dr. Kholid Ubed, pihaknya menyambut baik kerjasama antar-lembaga dan pemerintah, dalam upaya menangkal faham radikalisme dan terorisme. Karena, terorisme adalah musuh bersama sehingga perlu langkah kebersamaan untuk menanggulanginya.”Harus bersama-sama,” ujarnya di Kantor Polres Bojonegoro, 19 September 2017.

Sementara dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro menyebutkan, bahwa penandatanganan MoU merupakan program jangka pendek dan panjang dalam menjaga stabilitas keamanan Negara. Dengan kerjasama ini, Muhammadiyah mempunyai kewajiban membantu dan menjaga keamanan Negara.”Tentu kita punya kewajiban itu,” ujar Ketua PD Muhammadiyah Bojonegoro Suwito. Dia menambahkan, Muhammadiyah memiliki tujuh organisasi otonomo. Di antaranya Aisyiyah, IMM, IPM, Tapak Suci yang punya tujuan sama. Menjaga dan merawat Negara.

Sementara itu Kepala Kementerian Agama Bojonegoro, Munir mendukung penuh kegiatan ini. Dia menyebut, faham radikalime punya beberapa ciri-ciri. Seperti fanatic yang berlebihan, menanggap dirinya paling benar, sikap intoleran serta tidak mau menghargai orang lain.”Eksklusif dan revolusioner,”Ciri-ciri itu yang mesti kita waspadai,” tegasnya di Kantor Kepolisian Resort Bojonegoro, Selasa 19 September 2017.

Kepala Kepolisian Resort Bojonegoro Ajun Komisaris Besar Polisi Wahyu Sri Bintoro mengatakan, kerjasama ini menjadi sangat perlu. Yaitu tentang perlunya kersama antara dinas terkait dan juga lembaga kemasyarakatan. Tujuannya, yaitu menangkal faham radikalisme agar tidak masuk ke masyarakat dan juga remaja yang tengah menempuh pendidikan. “Makanya kita melibatkan banyak pihak, termasuk lembaga pendidikan,” ujarnya.

Polisi, lanjut Kapolres, bahwa perkembangan radikalisme dan terorisme secara global dipengaruhi oleh dunia internasional. Apalagi organisasi seperti Islamic State Iraq and Syria (ISIS), dimana anggotanya telah terdesak. (Rj/Sy)